Selamat Datang
Tampilkan postingan dengan label Cardiology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cardiology. Tampilkan semua postingan

Kamis, Januari 07, 2010

ASTRONOMER Trial

Pada tanggal 4 Januari 2010, Journal Circulation menerbitkan hasil dari study rosuvastatin pada Aortic Stenosis (Effect of Lipid Lowering With Rosuvastatin on Progression of Aortic Stenosis. Results of the Aortic Stenosis Progression Observation: Measuring Effects of Rosuvastatin (ASTRONOMER) Trial).

Study ini dilakukan pada 269 pasien stenosis aorta ringan smp sedang dengan 134 mendapatkan 40 mg Rosuvastatin dan 135 pasien mendapatkan placebo, diikuti antara 3-5 tahun (median follow up 3,5 tahun).

Aortic Stenosis Progression diukur dari Peak Aortic-Stenosis Gradient.

Dari study ini, peak aortic-stenosis gradient pada pasien yang mendapatkan rosuvastatin meningkat dari 40,8 mm Hg ke 57,8 mm Hg dan pada placebo dari 41,6 mm Hg ke 54,8 mm Hg. Peningkatan per tahun peak aortic-stenosis gradient 6,3 mm Hg pada yang mendapatkan rosuvastatin dan 6,1 mm Hg pada placebo (p=0.83).

Study ini juga meneliti perbandingan rosuvastatin berdasarkan keparahan stenosis aorta, usia, dan keparahan kalsifikasi; dimana tidak ada perbedaan antara kedua grup.

Sehingga dalam study ini disimpulkan: Rosuvastatin 40 mg TIDAK MENGURANGI PROGRESIVITAS STENOSIS AORTA RINGAN SAMPAI SEDANG sehingga statin sebaiknya tidak digunakan untuk pengobatan bila bertujuan hanya untuk menurunkan/mengurangi progresivitas stenosis aorta.

Hasil ini konsisten dengan dua study sebelum nya SEAS dan SALTIRE yang tidak mengurangi progresivitas stenosis aorta dan memberikan konfirmasi bahwa sehingga statin sebaiknya tidak digunakan untuk pengobatan bila bertujuan hanya untuk menurunkan/mengurangi progresivitas stenosis aorta.

Jika sebelumnya SEAS Trial dianggap tidak mampu mengurangi progresivitas stenosis aorta, ternya hal yang sama juga terjadi pada ASTRONOMER Trial... Jangan dibilang study Dual inhibition Simvastatin+Ezetimibe gagal, ternyata memang statin tidak mampu mengurangi progresivitas stenosis aorta.

Down Load Corner:

Journal Circulation

ASTRONOMER Trial

Minggu, Desember 13, 2009

10 Kunci Jantung Sehat

Menurut para pakar kesehatan ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan untuk kamu yang punya resiko tinggi penyakit jantung ini dia antara lainnya :


1. Kadar kolesterol harus selalu dibawah 200 mg%


2. Kadar LDL usahakan selalu kurang dari 150 mg%


3. Kadar trigliserida usahakan kurang dari 200 mg %


4. Kadar HDL usahakan selalu diatas 50 mg%


5. Kadar gula puasa kurang dari 120 mg %


6. Kadar gula postprandial 2 jam (sesudah makan ) tidak

melebihi 160 mg%


7. Tekanan darah sebaiknya tidak melebihi 140 mmHg

untuk sistole dan tidak melebihi 90 mmHg untuk diastole.


8. Jangan merokok atau dalam lingkungan asap rokok.


9. Dapat mengendalikan stress dengan baik (stresspositif).


10. Olah raga teratur, bertahap dan terukur. ( sebaiknya jenis Aerobik mis.senam pernapasan ,olah raga

permainan ,dsb).


Saya sendiri sudah mulai mengurangi rokok... yaitu mengurangi rokok teman.. :-)




Senin, Oktober 19, 2009

World Heart Day

World Heart Day
Tgl. : 25 October 2009 - Silang Monas Jakarta
Bersama : Gubernur DKI Jakarta @ RS. Harapan Kita + 1.000 fun bike.

Visit : Schering Plough Indonesia Exhibition

Jumat, Agustus 21, 2009

Ezetimibie Review Pharmakologi

Ezetimibe bekerja dengan menghambat peyerapan kolesterol di brush border yang terdapat di usus halus. Dari sini, ezetimibe akan diserap oleh sel usus halus yang kemudian akan dimetabolisme menjadi ezetimibe glucuronide. Kemudian melalui P-gp, dikeluarkan kembali ke brush border. di brush border, ezetimibe dan ezetimibe glucuronide menghambat penyerapan kolesterol.

"Sebenarya ezetimibe dan ezetimibe glucuronide juga masuk ke portal vein. Dari portal vein akan masuk ke hati. Di hati ezetimibe akan dimetabolisme lebih lanjut menjadi glucuronide, "ujar dr. Arini. Dengan P-gp, ezetimibe guluronide dikeluarkan ke bile duct yang bermuara ke duodenum dan kemudian kembali lagi ke brush border. Disini, ezetimibe glucoronide akan kembali menghambat penyerapan kolesterol.

Dengan dosis yang rendah yaitu 0,3mg, ezetimibe dapat menghambat penyerapan kolesterol tetapi tidak menghambat penyerapan progesteron dan ethynil estradiol. dan pada dosis yang lebih tinggi, 10mg/kg, ezetimibe juga tidak menghambat penyerapan vitamin A, vitamin D dan taurocholic acid.

Keamanan dan Tolerabilitas

Keamanan dan tolerabilitas secara keseluruhan hampir sama dengan plasebo. jika dikombinasi dengan statin, ternyata adverse eventnya sama dengan statin sebagai monoterapi.

Data keamanan pada otot dari penelitian jangka panjang tidak menunjukkan perbedaan antara ezetimibe/simvastatin versus simvastatin berkenaan efek samping muskuloskeletal Demikian juga jumlah orang berhenti berobat karena efek samping ini. Myalgia dilaporkan pada 0,9% dari 1525 pasien yang melanjutkan terapi dengan ezetimibe/simvastatin dan pada 1,3% dari 889 pasien yang menggunakan terapi simvastatin saja.

Pada pasien dengan insufiensi hati ringan terjadi peningkatan AUC sebesar 1,7x, insufiensi hati sedang sebesar 3-4x dan insufiensi hati berat sebesar 5,6 kali. "Karena kita tidak tahu efek apa yang bisa terjadi dengan peningkatan AUC ini,maka tidak direkomendasikan pada pasien dengan insufiensi hepatin sedang sampai berat," kata Prof. Arini. Sementara insufiensi ginjal, peningkatan AUC aalah 1,5 kali dan tidak ada penyesuaian dosis, sehingga dapat diberikan pada pasien ganguan ginjal maupun yang menjalani hemodialisa.

Reported by: thamrin salim

Selasa, Agustus 18, 2009

Dual Inhibition Ezetimibe dan Simvastatin yang terbaik

Paradigma Tata Laksana Kolesterol : Konsep Penghambatan 2 sumber kolesterol (di saluran cerna & hati)

Dalam penatalaksanaan lipid, jangan hanya mempertimbangkan hasil laboratorium, tetapi juga faktor-faktor risiko yang dimiliki seorang penderita. Guidline NCEP ATP III 2004, menetapkan target penurunan LDL < style="color: rgb(0, 0, 153);">Terapi Kombinasi

Kolesterol dalam tubuh, 80% berasal dari sinstesis di lever dan 20% berasal dari makanan. Ada keseimbanganantara sistesis dan absorpsi. Kalau sisntesisi meningkat, abosorbsi menurun, demikian juga sebaliknya. Statin disunakan untuk menghambat sintesis kolesterol di hati, sementara untuk menghambat penyerapan kolesterol di usus, diperlukan ezetimibe, sehingga untuk mendapatkan hasil yang baik, idealnya kedua sintesa ini dihambat.

Ada beberapa keterbatasan monoterapi dengan statin. Dalam satu penelitian disebutkan, kolesterol LDL hanya turun tajam pada pemberian dosis pertama statin. Apabila dosis dinaikkan, penurunan yang dicapai akan lebih rendah atau istilahnya "rule of six". Setiap kali dosis ditingkatkan dua kali, penurunan LDS yang dicapai hanya 6%. Terlebih lagi, dengan meningkatkan dosis ini, efek samping juga meningkat. Namun, jika statin dikombinasikan, dosis yang digunakan menjadi kecil, sehingga efek samping juga lebih kecil.


Selasa, Agustus 11, 2009

SERANGAN JANTUNG DAN SERBA-SERBINYA

Serangan Jantung

Setiap tahun, sepuluh ribu warga Amerika selamat dari serangan jantung, kembali menikmati hidup mereka masing-masing. Anda harus yakin bahwa anda akan kembali pulih. Jantung anda akan membaik dan seiring dengan berjalannya waktu, anda akan membaik dan kembali aktif. Pertanyaan dan jawaban berikut akan membantu anda memahami apa yang terjadi pada diri anda dan akan membantu anda memulihkan diri.

Mengapa saya mengalami serangan jantung?

Otot jantung anda memerlukan oksigen untuk hidup. Serangan jantung terjadi saat aliran darah yang membawa oksigen ke otot jantung mengalami penurunan drastis atasu sama sekali terhenti. Hal ini terjadi karena arteri koroner yang mensuplai darah ke jantung secara perlahan-lahan menjadi tebal dan keras karena penimbunan lemak, kolesterol dan kandungan lain yang disebut plak. Proses menahun ini disebut aterosklerosis. Saat plak yang terdapat di arteri jantung pecah, terbentuk gumpalan darah di sekitar plak. Gumpalan darah ini dapat menyumbah arteri dan menymbat alirah darah ke otot jantung. Keadaan dimana otot jantung kekurangan oksigen dan nutrisi, disebut iskemia. Saat terjadi kerusakan atau kematian otot jantung yang merupakan akibat dari iskemia, hal ini disebut serangan jantung atau kiokardial infark.

Mengapa tidak muncul gejala?

Pada aterosklerosis tidak terdapat gejala apapun. Alasan mengapa tidak muncul gejala, adalah karena terkadang saat arteri koroner menyempit, pembuluh darah disekitar yang juga bertugas mengalirkan darah ke jantung melebar. Pelebaran jaringan pembuluh darah ini disebut sirkulasi kolateral dan pada beberapa orang, membantu mencegah terjadinya serangan jantung dengan mengalirkan darah yang dibutuhkan ke jantung. Sirkulasi kolateral juga dapat terjadi setelah serangan jantung untuk membantu jantung pulih kembali.

Apakah jantung saya mengalami kerusakan permanen?

Saat terjadi serangan jantung, otot jantung yang kekurangan pasokan darah mulai melemah. Kerusakan yang terjadi pada otot jantung tergantung dari luasnya daerah yang disuplai oleh arteri yang terhambat dan juga jarah waktu antara terjadinya kerusakan dan saat penanganan. Kerusakan yang diakibatkan oleh serangan jantung tidak dapat pulih dengan sendirinya, bahkan saat jantung membaik, akan muncul jaringan parut yang keras/padat. biasanya dibutuhkan waktu satu bulan atau enam minggu untuk jantung anda dapat membaik dengan sendirinya. Jarak waktu tersebut bergantung pada tingkat kerusakan dan kemampuan jantung untuk meulihkan diri. Jantung merupakan oragan yang keras. Walaupun ada bagian yang mati, bagian lain tetap bekerja. Tetapi karena jantung rusak, dan melemah, maka ia tidak bisa memompa darah seperti biasanya. Biar bagaimanapun, dengan penangan yang tepat dan perubahan garya hidup, dapat mencegah terjadinya kerusakan yang parah.

Apakah saya dapat pulih setelah mengalami serangan jantung?

Kemungkinan besar anda akan pulih setelah mengalami serangan jantung. Otot jantung akan segera pulih setelah serangan dan proses pemulihannya biasanya memakan waktu sekitar delapan minggu. Jaringan parut akan terbentuk dibagian dimana terjadi kerusakan, dan jaringan tersebut tidak bekerja atau memompa sebaik jaringan yang sehat. Artinya, jantung tidak dapat memompa sebaik sebelum terjadi kerusakan. Tingkat kerusakan tergantung pada ukuran dan lokasi dari jaringan parut.

Apakah semua nyeri di dada dapat diketegorikan sebagai serangan jantung?

Tidak. Rasa nyeri yang biasa terdapat di dada disebut angina atau angina pektoris. Hal tersebut merupakan keadaan nyeri yang terjadi berulang-ulang dan hanya berlangsung selama beberapa menit saja. Angina terjadi saat otot jantung tidak mendapat pasokan darah dan oksigen yang dibutuhkan. Perbedaan antara angina dan serangan jantung secara permanen. Angina biasanya terjadi saat sedang berolah raga atau saat mengalami stress, dimana pada saat-saat tersebut denyut nadi dan tekanan darah anda akan meningkat dan otot jantung anda memerlukan pasokan oksigen lebih banyak.

Apakah ada hal lain yang menyebabkan serangan jantung selain penyumbatan?

Terkadang arteri koroner mengalami kontraksi atau kekakuan (spasme). Saat hal ini terjadi, arteri menyempit dan aliran darah ke beberapa bagian otot jantung berkurang atau bahkan berhenti. Penyebab terjadinya kekakuan tidak diketahui secara pasti. Kekakuan ini dapat terjadi saat pembuluh darah terlihat normal, demikian juga saat terjadi aterosklerosis yang menyebabkan sebagian pembuluh darah tersumbat. Kekakuan yang bera pada pembuluh darah dapat menyebabkan serangan jantung.

Apakah serangan jantung sama dengan henti jantung?

Tidak. Serangan jantung disebabkan oleh penyumbahan yang membuat terhentinya peredarah darah ke jantung. Henti jantung terjadinya saat terdapat gangguan pada sistem listrik jantung. Saat terjadi henti jantung (biasa disebut SCD atau Sudden Cardiac Death), kematian dapat terjadi dikarenakan jantung tidak berfungsi dengan baik. Hal ini disebabkan oleh detak jantung yang tidak normal atau tidak berdetak sepeti biasa (disebut aritmia). Aritmia yang biasa terjadi saat terjadi henti jantung adalah venticular fibrillation (bergetarnya bilik jantung). Hal ini terjadi ketika bilik jantung bagian bawah seketika berdetak secara tidak beraturan dan tidak dapat memompa darah. Kematian dapat terjadi dalam hitungan menit setelah jantung berhenti berdetak. SCD dapat diatasi jika dilakukan CPR (cardiopulmonary resusciatation atau resusitasijantung paru) dan defibrillator digunakan untuk mengejutkan jantung dan mengusahakan agar denyut nadi dapat berdetak normal dalam hitungan menit.

Myodardial Infarction/Miokar Infark : Kerusakan atau kematian daerah otot jantung (miokardium) akibat terhambatnya pasokan darah ke daerah tersebut, hal ini merupakan isitilah kedokterah dari serangan jantung.

Coronary Thrombosis/Trombosis koroner : Terbentuknya gumpalan pada pembuluh darah yang biasa memasok darah ke otot jantung. Biasa juga disebut oklusi koroner.

Oklusi Koroner : Sumbatan pada arteri koroner yang menyebabkan terhambatnya aliran darah ke beberapa bagian otot jantung biasa disebut dengan serangan jantung.

SPI-Files

Senin, Agustus 10, 2009

Penderita Diabetes Tipe2 dengan Hiperkolesterol

Penyakit Kardiovaskular, terutama penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab kematian utama pada pasien diabetes mellitus (DM) tipe 2. Karena tingginya kematian akibat PJK pada pasien dengan DM tipe 2 maka pasien tersebut perlu mendapatkan tatalaksana optimal seperti pasien tanpa DM yang sudah menderita PJK.
Lipid salah satu faktor utama terjadinya PJK, juga menunjukkan peran yang signifikan dalam mortalitas kardiovaskular pada pasien2 DM Tipe 2. Peningkatan kadar lipid pada pasien DM tipe 2 dikaitkan dengan peningkatan mortalitas kardiovaskular yang tajam dan linier.
Low density lipoprotein cholesterol (LDL-C) merupakan fraksi lipoprotein yang memegang peranan terpenting pada DM tipe 2, dimana pada DM tipe 2 lipoprotein ini mempunyai sifat yang lebih aterogenik karena mempunyai struktur yang kecil dan padat.

Panduan2 internasional yang ada menganjurkan penurunan kadar LDL-C dengan target <= 100mg/dL (akan lebih optimal kalau <=70 ml/dL) pada DM tipe 2 (resiko tinggi), sedangkan untuk pasien dengan DM tipe 2 dan PJK (resiko sangat tinggi) maka target LDL-C adalah <= 70 ml/dL. hal ini merupakan tantangan tersendiri, terutama pada pasien2 dengan kadar LDL-C >140 mg/dL, karena memerlukan farmakoterapi yang mampu menurunkan kadar LDL-C lebih dari 50% untuk mencapai target. Studi2 yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar pasien DM tipe 2 gagal untuk mencapai target meskipun dengan dosis statin maksimal. Rata-rata di Asia hanya 12% pasien yang bisa mencapai target terapi LDL-C, hal ini dikarenakan statin pada umumnya hanya mampu untuk menurunkan kadar LDL-C antara 31% sampai 45%. Kondisi ini menuntut adanya terapi yang lebih kuat tapi tetap aman untuk menurunkan kadar LDL-C pada DM tipe 2 sampai target ideal.

Terapi penurunan LDL-C dengan statis seringkali tidak mampu untuk mencapai target terapi oleh karena adanya mekanisme kompensasi terapi oleh karena adanya mekanisme kompensasi dari penghambatan sistesis kolesterol yaitu peningkatan absorbsi di saluran cerna. Kadar kolesterol di dalam tubuh ditentukan oleh laju absorbsi di usus dan sistesis di hati, pada saat sistesis dihambat oleh statis maka absorpsi dapat meningkat sampai dengan 4 kali lipat. Oleh karenanya untuk mencapai target terapi LDL-C harus dilakukan inhibisi terhadap kedua mekanisme tersebut... yang dapat dicapai dengan menambahkan ezetimibe (penghambat absorpsi kolesterol dengan terget di jejenum) pada terapi statin. Kombinasi ezetimibe dengan statis secara signifikan mampu menurunkan kadar LDL-C lebih tinggi dibandingkan dengan monoterapi statin (44,8% - 61,4% vs. 32,7% - 48,5%), selain juga mampu menurunkan kadar trigliserida (18-33%) dan meningkatkan kadar HDL-C (9%) lebih baik.

Studi VYTAL yang membandingkan antara Ezetimibe/Simvastatin (10mg/20mg atau 10mg/40mg) dengan Atorvastatin (10mg atau 20mg) pada 1.229 pasien DM tipe 2 dengan hiperholesterolemia menunjukan bahwa terapi dengan kombinasi memberikan hasil yang lebih baik ditinjau dari berbagai aspek, mulai dari penurunan LDL-C yang lebih banyak sampai kepada penurunan penanda inflamasi. Terapi kombinasi Ezetimibe/Simvastatin (10/40) juga mampu menghasilkan pencapaian target terapi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan Atorvastatin 20mg (81,8% vs. 31,2%).
Pencapaian yang lebih baik ini diperkuat dengan efek samping terapi yang rendah, dimana hanya 0,2% pasien dengan Ezetimibe/Simvastatin yang menghentikan pengobatan karena efek samping obat dibandingkan dengan 1% pada pasien yang mendapatkan Atorvastatin..